Formasi Pembentukan Pelangi

April 4, 2011 § 1 Comment

Ketika orang Jepang kuno dan orang Jerman kuno masih menganggapnya sebagai jembatannya para dewa, orang Islam sudah menelitinya secara rasional.

Begitulah, pelangi sebuah makhluk ciptaan Alloh yang begitu indah dilihat. Nah, kita mau berkenalan dengan makhluk indah bernama pelangi ini. Kan Cuma pelangi? Eits, tunggu dulu. Penjelasan tenatang pelangi ini bukan masalah yang sepele lho. Masalah ini pernah menjadi isu penting ilmu pengetahuan sepanjang Abad Pertengahan oleh para ilmuwan di dunia Barat dan Timur. Makanya, banyak ilmuan seperti Ibn al-Haytham, Ibn Sina, Nasr al-Din al-Tusi, Qutb al-Din al Shirazi, Aristoteles, dan Theodoric of Freibreg yang rela mati-matian meneliti salah satu makhluk Alloh subhanahu wa ta’ala ini.

Kamaluddin Al-Farizi dan Teori Ibn Al-Haytham
Dari sekian banyak ilmuan yang meneliti tentang pelangi, munculah seorang ilmuan muslim yang mampu menerangkan formasi pembentukan pelangi secara pas mendekati teori pelangi modern saat ini. Dia adalah Kamaluddin Al-Farizi murid dari Qutb al-Din al-Shirazi.

Al-Farizi dikenal sebagai ilmuan yang berhasi menjelaskan formasi pelangi menggunakan prinsip tetes air hujan, seperti yang kita pahami sekarang. Hasil penelitiannya dibukukan dalam sebuah kitab monumental berjudul Tanqih al-Manazir. Meskipun hanya berisi tentang komentar, penjelasan, dan pelurusan kesalahan-kesalahan Kitab Al-Minzir karya Ibn Al-Haytham, Tanqih al-Minzir mampu menjelaskan proses pembentukan pelangi secara tepat. Dibandingkan karya Ibn Al-Haytham, karya Al-Farizi dianggap lebih rasional dan bisa dibuktikan di laboratorium-laboratorium.

Antara teori pelangi Al-Farizi dan Ibn Haytham tentu tidak bias dipisahkan begitu saja. Dengan penuh sadar, Al-Farizi mengakui bahwa ia juga sepakat dengan beberapa pendapat Ibn Haytham meskipun dalam beberapa hal ia berbeda. Dengan kata lain, Al-Farizi juga mewarisi pemikiran ilmuan muslim lain semacam Ibn al-Haytham. Beberapa dalil yang disepakati dari Ibn al-Haythama diantaranya adalah:

  1. Cahaya datang ke bumi dan mengenai bagian luar permukaan bumi.
  2. Sudut dibentuk oleh cahaya yang disimpangkan dari bumi ke suati titik di luar permukaan bumidan membentuk pusat sudut tersebut yang berasal dari dua kali sudut yang disimpangkan.
  3. Cahaya datang ke permukaan bumi dimana cahaya tersebut disimpangkan dari pusat melewati titik pertama.

Cahaya, Bola Kaca, Mata dan Pelangi

Untuk menjelaskan proses terjadinya pelangi, Al-Farizi mempunyai cara tersendiri. Ia menggunakan media cahaya (perwujudan sinar matahari) dan benda bulat semacam bola kaca transparan. Ia tempatkan sebuah bola kaca di ruangan yang gelap. Beberapa saat kemudian, dari sebuah celah di ruang tersebut ia pancarkan cahaya menuju bola kaca tadi. Apa yang terjadi? Muncul sebuah gambar bola di sekitar sumber cahayatapi dalam keadaan terbalik, kecil dan terpisah-pisah. Nah, unik bukan? Itulah yang nantinya akan menuntun penjelasan tentang pelangi.

Melalui eksperimen tersebut, Al-Farizi menjelaskan bahwa sebenarnya pelangi merupakan hasil pemantulan atau pembiasan cahaya matahari yang mengenai tetesan-tetesan air hujan sebelum samapi ke permukaan bumi. Sesampainya di bumi, pantulan dan pembiasan cahaya tadi dipantulkan dan dibiaskan lagi menuju mata kita. Sekedar mengingatkan, beberapa bagian permukaan bumi juga memiliki sifat memantulkan atau membiaskan cahaya mirip bola kaca tadi. Jadi, kalau ada sinar yang dipantulkan dan dibiaskan sebelum sampai ke mata kita sangatlah wajar. Pantulan dan pembiasan yang sampai ke mata kita yang berwarna-warni itulah yang disebut pelangi.

Selain itu Al-Farizi juga menjelaskan bahwa cahaya yang datang ke permukaan bumi itu memiliki sudut yang pasti dan tetap. Cahaya itu jatuh pada satu titik dan diikuti oleh cahaya lain di titik sekitarnya sehingga sebagian memantul dan sebagian membias. Karena cahayanya banyak dan sudut cahaya yang sampai ke mata juga banyak, jadinya tampak warna-warni. Kedua, perubahan dan jumlah sinar yang jatuh ke permukaan bumi sebenarnya bias diketahui. Al-Farizi menjelaskan hal tersebut sebagai berikut:

  1. Pada awalnya cahaya yang datang hanya mengakibatkan dua pembiasan.
  2. Kemudian terjadui dua pembiasan dan satu pantulan.
  3. Dilanjutkan proses ketiga ketika terjadi dua pembiasan dan dua pantulan.

Sebenarnya orang Islam-lah yang mempelopori penemuan-penemuan penting di alam raya ini. Bayangkan, di saat orang Jerman Kuno dan Jepang Kuno meyakini pelangi sebagai jembatan para dewa untuk mengelilingi dunia. Orang Cina menganggap pelangi perwujudan Yin dan Yang, orang Islam sudah menemukan penemuan rasional yang relevan dengan zaman sekarang. Nah, jika dahulu ilmuan kita bias berjaya, sudah seharusnya ilmuan muslim sekarang yang muda-muda bisa merebut kembali tahta kejayaan itu. Semangat belajar dan bereksperimen!

Sumber: “Teori Pelangi ala Kamaludin Al-Farizi” , Majalah Elfata edisi 01 Vo. 09 2009 hal 42

About these ads

Tagged: , , , , , , , ,

§ One Response to Formasi Pembentukan Pelangi

  • ayrien says:

    wah gga nyangka ya..ternyata ilmuan muslim jauh lebih cerdas pada masa lampau..beda ya kalo sekarang kita lebih membanggakan yg berbau barat..padahal kita sendiri sedang mentertawakan diri sendiri…kasiaan remaja2 kita..mudah2an mereka cepat sadar bahwa berfikir dan bertindak positif itu lebih baik ketimbang hura2 n berbuat negatif.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Formasi Pembentukan Pelangi at Ilmuan Salaf.

meta

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: